Autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks yang biasanya muncul pertama kali pada usia 0-3 tahun. Autisme ini disebabkan gangguan syaraf yang mempengaruhi fungsi normal otak, khususnya pada bidang kecakapan berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Baik orang dewasa maupun anak-anak berautis biasanya menunjukkan kesulitan dalam berkomunikasi verbal maupun non verbal, berinteraksi sosial maupun bermain. Autisme salah satu dari
Ø Tidak mengoceh atau mendekut pada usia 1 bulan
Ø Tidak menunjukkan bahasa tubuh (menunjuk, melambai, meraih) pada usia 12 bulan
Ø Tidak mengucapkan satupun kata pada umur 16 bulan
Ø Tidak mengucapkan sendiri frasa yang terdiri atas dua kata pada usia 24 bulan
Ø Mengalami kehilangan kecakapan bahaa atau sosial pada umur berapapun
Sementara itu gejala lain yang juga perlu diperhatikan
Ø Kesulitan bermain bersama anak lain
Ø Tertawa tidak adekuat
Ø Tidak ada kontak mata dengan otrang lain
Ø Jarang merasa sakit
Ø Lebih suka menyendiri
Ø Memutar benda dan bermain secara monnoton
Ø Suka pada suatu benda yang tidak sesuai
Ø Hiperaktif atau hipoaktif
Ø Tidak dapat belajar secara biasa
Ø Selalu melakukan rutinitas yang sama
Ø Tidak ada rasa takut terhadap bahaya
Ø Main secara aneh terus menerus
Ø Ekolali (mengulang kata atau kata-kata) tanpa keluarnya bahasa yang benar
Ø Tidak mau digendong adan dibelai
Ø Tidak memberi respons terhadap suara, seolah-olah tuli
Ø Tidak menyatakan kehendak dengan kata-kata, hanya menunjuk saja
Ø Tantrum
Ø Perkembangan motorik kasar dan halus tidak seimbang (tidak mau menendang bola tapi dapat menyusun kubus)
Pada terapi Autisme dapat menerapkan Teori Psikologi Behaviorisme. Fenomena ini bisa dijelaskan sebagai berikut :
a. Penerapan Teori Belajar “Connectionism”
Teori ini dikemukakan oleh Thorndike yang mengemukakan bahwa belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus (S) dan respons (R). Dalam proses terapi terhadap para pasien autis, speech delay, hiperaktif maupun hipoaktif diterapkan metode belajar Stimulus-Respon, yaitu dengan memberikan berbagai macam stimulus terhadap pasien, kemudian pasien disuruh memberikan respon terhadap stimulus tersebut. Di samping itu juga diterapkan tiga hukum dalam belajar sesuai penelitian Thorndike, yang meliputi :
1. Law of effect, hubungan S-R bertambah erat kalau disertai oleh perasaan senang atau puas. Sebaliknya, menjadi kurang kuat atau lenyap kalau disertai rasa tidak senang. Dalam penerapannya, terapis membuat perasaan pasien senang dengan memberikan mainan dan makanan sesuai dengan kebutuhan pasien sehingga diharapkan pasien bias memberikan respon yang positif.
2. Law of exercise, hubungan S-R bertambah erat kalau sering digunakan dan akan kurang erat atau lenyap jika jarang digunakan. Dalam proses terapi, dilakukan banyak latihan, ulangan-ulangan dan pembiasaan.
3. Law of readness, kesiapan untuk berbuat akan lebih mempermudah antara hubungan S dan R, tetapi apabila telah siap kemudian dicegah, maka akan menyebabkan rasa negatif bagi yang bersangkutan. Dalam proses terapi, pasien dikondisikan untuk siap melakukan proses terapi dengan diajak berdoa terlebih dahulu sebelum dimulai terapi.
a. Penerapan Teori Behaviorisme Burrhus Frederic Skinner (Kondisioning Operan)
Menurut Skinner ada dua prinsip umum yang berkaitan dengan kondisioning operan yang diterapkan dalam proses terapi, yaitu :
(1) Setiap respon yang diikuti oleh reward akan cenderung diulangi. Dalam proses terapi, sistem reward digunakan untuk memotivasi pasien melakukan hal yang diinginkan oleh terapis. Reward yang diberikan kepada pasien berupa makanan atau mainan. Caranya adalah dengan memberikan makanan atau mainan kepada pasien setiap kali pasien berhasil melakukan hal sesuai dengan perintah terapis. Hal ini akan memotivasi pasien untuk mengulang hal yang sama setiap kali terapis memberikan terapi.
(2) Reward atau reinforcement stimuli akan meningkatkan kecepatan (rate) terjadinya respons. Dengan adanya pemberian reward kepada pasien, pasien diharapkan mampu merespon stimulus-stimulus yang diberikan terapis dengan bersemangat sehingga kecepatan merespon dari pasien juga bagus.
Orang tua yang anaknya telah di vonis menderita autisme maka perlu mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
Ø Belajar dan membaca sebanyak mungkin mengenai jenis-jenis perawatan pada penderita autisme
Ø Sharing dengan keluarga yang lain yang juga memiliki anggota keluarga yang menderita autisme
Ø Periksakan ke dokter, psikiater, psiolog untuk mendapatkan gambaran dasar kondisinya.
Ø Menyusun progarm pendidikan atau prilaku di rumah
Ø Memulai terapi, seperti: speech teraphy, terapi fisik, okupasional
Ø Menyesuaikan diet dan nutrisi anak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar